Oleh :Muslihudin., CPLA 

Menginginkan lingkungan yang bersih, rapi, dan terbebas dari semak belukar serta ranting kering yang mengganggu, tentu memerlukan alat yang tepat. Kita tidak bisa membersihkan tanaman liar hanya dengan tangan kosong. Di sinilah peran parang atau alat tajam lainnya menjadi sangat vital.

Sebuah parang dikatakan berkualitas baik bukan karena bentuknya yang indah semata, melainkan karena ketajaman dan kekuatannya dalam menebas, memotong, dan merapikan apa yang sudah tak terurus. Semakin tajam bilahnya, semakin mudah pekerjaan berat itu diselesaikan, dan semakin indah pula hasil akhirnya.

Ironi yang Menolak Ketajaman

Namun, sungguh ironi ketika kita melihat realita di sekitar kita. Banyak orang yang sangat mendambakan kebersihan dan kerapian, tetapi justru enggan menolak ketika “alat” yang digunakan bekerja sesuai fungsinya.

Mereka menginginkan masalah diselesaikan, keburukan disingkirkan, dan kebenaran ditegakkan, tetapi hati dan pikiran mereka menolak “ketajaman” yang datang menyapa.

Bagaimana mungkin sebuah parang bisa membersihkan semak belukar jika kita takut akan ketajamannya?

Bagaimana mungkin kebenaran bisa meluruskan yang bengkok jika lidah dan hati kita alergi terhadap kata-kata yang tajam namun tepat?

Ketajaman itu Bukan untuk Melukai, tapi untuk Memperbaiki

Seringkali orang salah paham. Ketajaman sebuah kritikan, nasihat, atau teguran ibarat mata parang. Ia terasa perih, menusuk, dan tidak nyaman jika menyentuh kulit.

Namun, fungsinya bukan untuk menyakiti, melainkan untuk memotong apa yang menghalangi, menebas apa yang membusuk, dan merapikan apa yang berantakan.

Orang yang menolak ketajaman kebenaran sama halnya dengan orang yang ingin membersihkan kebun tetapi memegang parang dengan mata menghadap ke diri sendiri, atau menolak mengayunkannya karena takut terluka. Akibatnya? Semak belukar makin rimbun, masalah makin menumpuk, dan kebaikan tak pernah terwujud.

Jika kita menginginkan perubahan, perbaikan, dan kehidupan yang lebih baik, maka kita harus berani menerima “ketajaman”.

Terimalah kritikan yang tajam seperti parang, karena dialah yang akan memotong sifat buruk kita.

Terimalah nasihat yang keras namun benar, karena dialah yang akan merapikan jalan hidup kita agar tak lagi berbelok ke arah yang salah.

Jangan jadikan ketajaman sebagai musuh, karena justru dengan ketajaman itulah, keindahan dan kerapian bisa tercipta.